Malang – Program Studi S1 Pendidikan IPS Universitas Negeri Malang (UM) menggelar visiting lecturer pada Kamis, 25 September 2025 di Aula Gedung A.21 Lantai 9 Universitas Negeri Malang. Kegiatan ini menghadirkan dosen dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), yakni Prof. Dr. Drs. Ersis Warmansyah Abbas, BA, M.Pd. dan Prof. Dr. Drs. Bambang Subiyakto, M.Hum.
Tema yang diangkat adalah “Pembelajaran Kontekstual IPS Berbasis Etnopedagogi.” Kegiatan ini diikuti mahasiswa S1 Pendidikan IPS UM yang ingin memperdalam pemahaman tentang pentingnya mengaitkan materi IPS dengan kearifan lokal.

Gambar 1 Penandatanganan Kerja Sama Prodi Pendidikan IPS UM – ULM
Prof. Ersis dalam paparannya menyampaikan bahwa etnopedagogi tidak hanya memperkaya materi pembelajaran, tetapi juga melatih guru untuk lebih peka terhadap kondisi sosial budaya siswa. “Guru adalah agen kebudayaan. Mereka bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga melestarikan nilai-nilai lokal melalui pembelajaran,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis budaya akan lebih membumi, sehingga siswa bisa melihat relevansi IPS dengan kehidupan nyata. Contohnya, budaya pasar tradisional bisa digunakan untuk menjelaskan topik ekonomi dan interaksi sosial, sementara tradisi gotong royong bisa menjadi bahan kajian IPS dalam aspek solidaritas sosial.
Prof. Bambang melanjutkan dengan membahas tantangan implementasi etnopedagogi di sekolah. Menurutnya, seringkali guru terkendala keterbatasan bahan ajar yang memuat budaya lokal. “Di sinilah peran guru sekaligus peneliti. Guru bisa melakukan observasi kecil di lingkungannya dan menjadikan temuan itu bahan pembelajaran,” jelasnya.

Gambar 2 Penyampaian materi oleh Prof. Dr. Drs. Bambang Subiyakto, M.Hum.
Sesi tanya jawab memperkaya diskusi. Mahasiswa menanyakan bagaimana cara mengukur keberhasilan pembelajaran berbasis etnopedagogi. Prof. Bambang menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya dilihat dari nilai akademik, tetapi juga dari sikap siswa yang lebih mencintai budaya lokal, mampu berpikir kritis, dan peduli pada lingkungannya.
Seorang mahasiswa mengaku terinspirasi. “Saya merasa kuliah ini membuka wawasan saya. Selama ini saya belajar IPS lebih banyak lewat buku teks, tetapi ternyata budaya di sekitar bisa jadi sumber belajar yang lebih hidup,” katanya.
Acara diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan kepada narasumber dan sesi foto bersama. Visiting lecturer ini diharapkan dapat memperkuat wawasan mahasiswa tentang integrasi budaya dalam pendidikan IPS serta mendorong lahirnya inovasi riset berbasis etnopedagogi.
